Alena sangat takut. Hari ini adalah hari Jumat, ada pelajaran Biologi pada jam ke-2. Biologi adalah pelajaran yang sangat disukai Alena, tapi……..

“Duh…Euis apakah isu tentang siswa yang lulus ulangan Biologi itu 4 orang adalah benar? Dan aku tidak termasuk didalamnya?”

“Aku tidak tahu…”, jawab Euis.

“Mungkin Bapak salah memeriksa kali…”, membela diri.

Saat itu Alena amat sangat ketakutan akan nilai hasil ulangan Biologinya. Bell keduapun berbunyi….

“Assalamualaikum”, sapa guru Biologi sambil membawa kertas ulangan Biologi.

Rasa ketakutanpun menyelimuti keadaan hati Alena. “Duh…Euis aku dapat nilai berapa ya? Padahal aku sangat yakin lulus”.

“Aku tidak tahu ….”, jawab euis.

Guru Biologipun membacakan daftar nama siswa yang lulus ulangan Biologi. Ketika dibacakan nama Alena belum disebut.

Mungkin yang terakhir( hatinya menggerutu . Dan sampai dikertas terakhir ternyata benar nama Alena tidak disebut.

“Benar, Euis aku tidak lulus…”,

“Akupun tidak lulus”, jawab Euis dengan penuh keyakinan.

“Mungkinkah ini teguran untuk aku, karna aku melalaikan belajar dan menggantinya dengan berbisnis?…Ya, ini adalah teguran…”

Alena termenung di tempat duduknya, teman-temannyapun merasa heran akan nilai hasil ulangannya. apalagi guru Biologi, ia merasa sangat kecewa akan hasil ulangan Alena.

Tiba saatnya guru Biologi membagikan kertas ulangan biologi bagi siswa yang tidak lulus. Dan siswa yang pertama yangdipanggil adalah Alena.

“Nilainya mendekati batas kelulusan, nilainya 5,5 Alena…” Alena ke depan kelas mengambil kertas ulangan tersebut. “Bapa sangta kecewa, kamu adalah juara umum tapi nilai hasil ulangan Biologi kamu sangat mengecewakan Bapa.” dengan nada marah.

Setelah mengambil kertas ulangan itu,Alenapun kembali ke tempat duduknya dan merenung kenapadia bisa seceroboh itu dalam belajar.

“Alena, sakit ya…”, seru Bambang dan Gempur. Alena hanya bisa tersenyum menyesali.

“Sudah jangan melamun!” kata Bambang pelan.

“Siapa yang melamun….”   Aku hanya merenung saja 9 gerutu hatinya ).

sore harinya, Alena les Matematika. Ketika les dimulai, guru matematikapun heran melihat Alena yang kurang konsentrasi menerima keadaan.

“Coba kerjakan soal eksponen yang ada di papan tulis?” kata guru matematika.

Dengan pikiran yang kacau, Alena mengerjakan soal tersebut. ternyata jawaban Alena salah. Padahal biasanya Alena bisa memecahkan soal yang diberikan guru.

“Pak, apakah hasilnya seprti ini?” tanya Alena. “Pikiranmu kacau, masa jawabannya seoerti itu!” seru guru matematika.

Satu jam berlalu….

Waktu untuk pulang telah tiba , Alena merasa tidak puas dengan lesnya hari ini. Dia mengeluh kepada guru matematika.

“Aduh..Pak..”

“Kamu harus bisa dasrnya, belajar dirumah ya” jawab guru matematika.

Setelah berdoa, aku pulang dan…

“Mana konsentrasi kamu Alena?” tanya guru matematika sambil bersalaman.

Alena hanya bisa senyum menyesali netapa tidak menyenangkannya hari ini. Pulang,.. ketika di jalan…

“Duh Euis kenapa ya….. aku tidak konsentrasi hari ini?””

“Emang apa yang kamu pikirkan sampai-sampai mengganggu konsentrasimu?” tanya Euis.

“Boilogi” singkatnya.

“Udahlah jangan memikirkan lagi nilai Biologi, yang ada hal itu akan mengganggu pelajaran lain. Lebih baik sekarang kamu berusaha untuk memperbaiki nilai Biologi kamu di ulum semester 1 saja”.

“Betul juga ya…… aku akan membuktikannya,” penuh semangat.

Hari itu memberikan pelajaran yamg sangat berharga bagi Alena.