Category: Teknik SIpil


1.  Definisi Model
Model adalah pola (contoh, acuan dan ragam) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan (Departemen P & K, 1984 : 75). Model didefinisikan sebagai suatu representasi dalam bahasa tertentu dari suatu sistem yang nyata.
Menurut Ackoff, et all (1962) mengatakan bahwa model dapat dipandang dari tiga jenis kata yaitu sebagai kata benda, kata sifat dan kata kerja. Sebagai kata benda, model berarti representasi atau gambaran, sebagai kata sifat model adalah ideal, contoh, teladan dan sebagai kata kerja model adalah memperagakan, mempertunjukkan. Dalam pemodelan, model akan dirancang sebagai suatu penggambaran operasi dari suatu sistem nyata secara ideal dengan tujuan untuk menjelaskan atau menunjukkan hubungan-hubungan penting yang terkait.

2. Prinsip Dasar Pengembangan Model
Prinsip-prinsip dasar pengembangan model adalah sebagai berikut :
a. Elaborasi : model dimulai dari yang sederhana sampai didapatkan model yang representatif.
b. Analogi : pengembangan menggunakan prisip-prinsip dan teori yang sudah dikenal luas.
c. Dinamis : pengembangannya ada kemungkinan untuk bisa diulang.

3. Taksonomi Model / Klasifikas Model
Taksonomi model atau klasifikasi model terdiri dari delapan yaitu :
a. Berdasarkan fungsinya, model dibedakan menjadi 3 jenis :
1) Model deskriptif, yaitu model yang hanya menggambarkan situasi sebuah sistem tanpa rekomendasi dan peramalan. Contoh : peta organisasi.
2) Model prediktif, yaitu model yang menunjukan apa yang akan terjadi bila sesuatu terjadi.
3) Model normatif, model yang menyediakan jawaban terbaik terhadap satu persoalan. Model ini memberikan rekomendasi tindakan-tindakan yang perlu diambil. Contoh model budget advertensi, model economic lot size, model marketing mix.
b. Berdasarkan strukturnya model dibedakan menjadi 3 jenis :
1) Model ikonik, yaitu model yang menirukan sistem aslinya, tapi dalam suatu skala tertentu. Contoh : model pesawat.
2) Model analog, yaitu suatu model yang menirukan sistem aslinya dengan hanya mengambil beberapa karakteristik utama dan menggambarkannya dengan benda atau sitstem lain secara analog. Contoh : aliran lalu lintas di jalan dianalogkan dengan aliran air dalam system pipa.
3) Model simbolis, yaitu suatu model yang menggambarkan sistem yang ditinjau dengan simbol-simbol biasanya dengan simbol-simbol matematik. Dalam hal ini sistem diwakili oleh varaibel-variabel dari karakteristik sistem yang ditinjau.
c. Berdasarkan referensi waktu terdapat 2 jenis model :
1) Model statis, yaitu model yang tidak memasukkan faktor waktu dalam perumusannya.
2) Model dinamis, yaitu mempunyai unsur waktu dalam perumusannya.
d. Berdasarkan referensi kepastian dibedakan menjadi 4 jenis model :
1) Model deterministik, dalam model ini pada setiap kumpulan nilai input, hanya ada satu output yang unik, yang merupakan solusi dari model dalam keadaaan pasti. Contoh : model persediaan.
2) Model probabilistik, yaitu model yang menyangkut distribusi probabilistik dari input atatu proses dan menghasilkan suatu deretan harga bagi paling tidak satu variabel output yang disertai dengan kemungkinan-kemungkinan dari harga-harga tersebut. Contoh : diagram pohon keputusan, peta pengendalian.
3) Model konflik, Dalam Model ini sifat alamiah pengambil keputusan berada dalam pengendalian lawan. Contoh : Perang
4) Model Tak Pasti / Uncertainly, yaitu model yang dikembangkan untuk mengahadapi ketidakpastian mutlak. Pemilihan jawaban berdasarkan pertimbangan, utilitas dan resiko melalui probabiltas subjektif.
e. Berdasarkan tingkat generalitas ada 2 jenis model :
1) Model umum, yaitu model yang dapat diterapkan pada berbagai bidang untuk beberapa jenis masalah yang berbeda. Contoh : program linier, PERT, model antrian, kasus personalia dan pemasaran serta distribusi barang.
2) Model khusus, yaitu model yang dapat diterapkan terhadap sebuah bidang atau yang unik saja dan hanya digunakan pada masalah-masalah tertentu. Contoh : model persediaan probabilistik.
f. Berdasarkan acuan lingkungan ada 2 jenis model :
1) Model terbuka, yaitu model yang memiliki interaksi dengan lingkungannya berupa pertukaran informasi, material atau energi mempunyai satu variabel eksogen yaitu variabel yang berasal dari lingkungan eksternal. Contoh : Model Sosial.
2) Model tertutup, yaitu Model yang tidak memiliki interaksi dengan lingkungannya memiliki variabel yang seluruhnya endogen, yang terkendali dan internal. Contoh : Model Thermostat.
g. Berdasarkan derajat kuantifikasi adalah sebagai berikut :
1) Model kualitatif, yaitu model yang menggambarkan mutu suatu realita. Model ini terdiri dari 2 jenis model :
– Model mental : model yang menggambarkan titik awal dari abstraksi dalam memahami masalah dan situasi. Contoh : proses berpikir manusia tentang sesuatu.
– Model verbal, yaitu model yang disajikan dalam bahasa sehari-hari dan tidak dalam bahasa logika atau simbolis atau matematis. Analisis bersandar pada pertimbangan yang masuk akal dan bernalar. Contoh : model konseptual.
2) Model kuantitatif, yaitu model yang variabelnya dapat dikuantitatifkan. Janis model ini terbagi 2 :
– Model statistic, yaitu model yang mendeskripsikan dan menyimpulkan data
– Model optimasi, yaitu model yang digunakan untuk menentukan jawaban terbaik. Terdiri atas yaitu optimasi analitik dan logaritmik
– Model Heuristik , yaitu model yang digunakan untuk menbcari jawaban yang baik tapi bukan optimum. Merupakan pendekatan praktis.
– Model simulasi, yaitu model yang digunakan untuk mencari jawaban yang baik dan menguntungkan .
h. Berdasarkan dimensi ada 2 jenis model :
1) Dua dimensi, contoh : photo, peta.
2) Tiga dimensi, contoh : prototype jembatan

Sejarah pemakaian tenaga air dapat dibagi menjadi 5 (lima) fase.
1. kira-kira 2000 tahun yang lalu, orang telah memanfaatkan tenaga air biasanya untuk kincir air (water wheel), berdasarkan tenaga kinetik yaitu : E = 1/2 x m x v^2
Pada masa ini, tenaga air merupakan satu-satunya tenaga mekanik yang sangat potensial digunakan oleh Manusia, selain tenaga hewan serta tenaga manusia yang sangat terbatas, sampai kira-kira pertengahan abad ke 18 (1760), saat timbulnya Revolusi Industri yang pertama.

2. Setelah ditemukan tenaga uap sebagai bahan penggerak tenaga, maka tenaga uap (steam power), merupakan tenaga yang banyak digunakan (populer).
kemudian orang menemukan tenaga dari minyak (bensin, minyak diesel/solar dll). penggunaan tenaga uap dan tenaga minyak tersebut lebih mempermudah pemakaiannya untuk kebutuhan manusia membuat barang-barang kebutuhan materiil dan transportasi (pada saat mulainya Revolusi Industri).
sedang tenaga air pada waktu itu pemakaiannya menjadi kurang populer, karena untuk mendapatkan tenaga air perlu adanya air yang bertenaga, artinya yang cukup banyak volume (dengan persyaratan tertentu) dan tenaga potensial (beda tinggi = H) yang cukup.
Misalnya : di negeri Belanda banyak sekali air (volumenya) tetapi tidak bertenaga, karena letaknya sangat rendah dibawah muka air laut, jadi kekurangan tinggi terjun.

3. Setelah tenaga air, tenaga uap dan tenaga minyak dapat diubah menjadi tenaga listrik dan dapat ditransformasikan sampai jarak jauh dengan kawat / kabel bertgangan tinggi (high tension lines), maka tenaga air menjadi sumber tenaga listrik yang populer di Norwegia, Swedia, Jerman, Austri, Swiss, Italia, Jepang dll.

4. Setelah perang dunia I
Dunia mengalami krisis ekonomi yang besar, sehingga tenaga uap dan minyak merupakan tenaga yang sukar dipergunakan, antara laint :
a. tenaga buruh tidak mudah lagi dipergunakan sebagai alat produksi, khususnya untuk pertambangan.
b. harga bahan bakar menjadi tidak stabil, lebih-lebih karena menjadi inflasi nilai uang, bahan bakar tersebut menjadi sangat mahal. bersamaan dengan itu tenaga airyang tidak seberapa menggunakan tenaga buruh dan bahan bakar menjadi populer kembali, terlebih lagi katena bangunan tenaga air (BTA) dapat di gabungkan dalam suatu proyek serba-guna (Multi Purpose Project) atau setidak-tidaknya Dual Purpose Project.

Bangunan-bangunan serba guna misalnya untuk :
1. pembangkit tenaga listrik (PLTA)
2. pengendalian/pencegahan banjir (Flood control)
3. pengairan (irrigation)
4. air minum (essainering)
5. perikanan darat
6. lalu lintas air (navigation)
7. pengendalian kadar garan dan sedimen/endapan
8. rekreasi, pariwisata dan industri

beberapa contoh proyek serba-guna yaitu :
– bendung aswan (nile project), mesir
– tennessee river scheme, di USA
– nive project dan jenissei project, di Uni Sovyet
– danada project, di India
– Di Indoensia, antara lain : Jatiluhur project, karangkates project, asahan project

5. pada zaman sekarang di beberapa negara yang telah maju, telah dimulai usaha untuk memanfaatkan sumber tenaga nuklir, bahkan juga tenaga matahari.

Sumber : Bangunan Tenaga Air, Ir. Hari Sutanto

Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (Bappeda Jabar)

Debit Andalan

Debit andalan pada umunya dianalisis sebagai debit rata-rata untuk periode 10 harian, tengah bulanan atau bulanan. Kemungkinan tak terpenuhi ditetapkan 20% (kering) untuk menilai tersedianya air berkenaan dengan kebutuhan pengambilan (diversion requirement) Debit andalan (dependable flow)adalah debit minimum (terkecil) sungai yang masih dimungkinkan untuk keamanan operasional suatu bangunan air. Definisi lainnya mengenai debit andalan adalah debit minimum sungai untuk kemungkinan terpenuhi yang sudah ditentukan dan dapat dipakai untuk irigasi. Untuk penentuan debit andalan ada 3 metode analisis yang dapat dipakai yaitu :

  1. Analisis frekuensi data debit
  2. Neraca air
  3. pengamatan

 Menurut Soemarto (1987), pengamatan besarnya keandalan yang diambil untuk penyelesaian optimum penggunaan air di beberapa macam kegiatan dapat dilihat pada tabel 2.6.

 Tabel 2.6 Nilai Debit Andalan Untuk Berbagai Macam Kegiatan

Kegiatan Keandalan
Penyediaan Air Minum 99%
Penyediaan Air Industry 95%-98%
Penyediaan Air Irigasi
Daerah Beriklim Setengah Lembab 70%-85%
Daerah Beriklim Kering 80%-95%
Pembangkit Listrik Tenaga Air 85%-90%

Sumber : Soemarto (1987)

 2.3.1  Analisis Neraca Air

          Dalam siklus hidrologi, penjelasan mengenai hubungan anatara aliran ke dalam (inflow) dan aliran keluar (outflow) di suatu daerah untuk suatu periode tertentu disebut neraca air atau keseimbangan air (water balance). Bentuk persamaan water balance adalah :

P          = Ea + ΔGS + TRO …………………………………………………………(7)

Dengan :

P          = presipitasi

Ea        = evapotranspirasi

ΔGS    = perubahan groundwater storage

TRO    = total run off

Dengan menggunakan model neraca air (water balance) harga-harga debit bulanan dapat dihitung dari curah hujan bulanan, evapotranspirasi,  kelembaban tanah dan tampungan air tanah.

Perhitungan debit andalan dengan cara empiris di Indonesia umumnya menggunakan beberapa metode, yaitu metode Mock, NRECA dan Tank Model. Secara umum analisis debit menggunakan metodeempiris dari Dr. FJ. Mock (1973) merupakan analisis keseimbanganair untuk menghitung harga debit bulanan berdasarkantranformasi data curah hujan bulanan dan data klimatologi. Berikut ini adalah tabel notasi dan satuan yang dipakai untuk data iklim.

Tabel 2.7 Notasi dan Satuan Parameter Iklim

Data Meteorologi Notasi Satuan
Presipitasi P Milimeter (mm)
Temperatur T Derajat Celcius (ºC)
Penyinaran Matahari S Persen (%)
Kelembaban Relatif H Persen (%)
Kecepatan Angin W mile per hari (mile/hr)

Sumber : Sudirman (2002)

Prinsip metode Mock menyatakan bahwa hujan yang jatuhpada daerah tangkapan air, sebagian akan hilang akibatevapotranspirasi, sebagian akan langsung menjadi direct runoff dan sebagian lagi akan masuk ke dalam tanah atau terjadi infiltrasi. Infiltrasi ini mula-mula akan menjenuhkan permukaan tanah, kemudian terjadi perkolasi ke air tanah danakan keluar sebagai base flow. Hal ini terdapat keseimbangan antara air hujan yang jatuh dengan evapotranspirasi, direct runoff dan infiltrasi, dimana infiltrasi ini kemudian berupa soil moisture dan ground water discharge. Aliran dalam sungai adalah jumlah aliran yang langsung di permukaan tanah dan base flow.

Curah hujan rata-rata bulanan di daerah pengaliran sungai dihitung berdasarkan data pengukuran curah hujan dan evapotranspirasi yang sebenarnya dari data meteorologi dengan menggunakan metode Penman dan karakteristik vegetasi. Perbedaan antara curah hujan dan evapotranspirasi mengakibatkan limpasan air hujan langsung (direct runoff) aliran dasar/air tanah dan limpasan air hujan lebat (storm runoff) .

Berikut ini adalah parameter-parameter yang harus dicari dalam melakukan perhitungan debit andalan dengan menggunakan metode FJ. Mock.

A.  Evapotranspirasi

Evapotranspirasi merupakan faktor penting dalam memprediksi debit dari data curah hujan dan klimatologi dengan menggunakan metode Mock. Alasannya adalah karena evapotranspirasi ini memberikan nilai yang besar untuk terjadinya debit dari suatu daerah aliran sungai. Rumus evapotranspirasi yang digunakan pada metode Mock menggunakan metode Penman. Data terukur yang dibutuhkan yaitu :

  1. Letak lintang (LL)
  2. Suhu udara (T)
  3. Kecerahan matahari (n/N)
  4. Kecepatan angin (u)
  5. Kelembaban relatif (RH)

Rumusnya adalah sebagai berikut :

ETo             = c × ETo*

ETo*           = W(0,75 × Rs – Rn1) + (1 – W) × (f(u)) × (ea – ed)………….……(8)

Dimana :

c          = factor koreksi penman

W        = factor penimbangan untuk suhu dan elevasi daerah

Rs        = jumlah radiasi gelombang pendek

Rs        = (0,25 + 0,54 n/N) × Ra ……………………………………………(9)

Ra       = radiasi gelombang pendek yang memenuhi batas luar atmosfer (mm/hari)

n          = rata-rata cahaya matahari sebenarnya dalam satu hari (jam)

N         = lama cahaya matahari maksimum yang mungkin dalam satu hari (jam)

Rn       = radiasi bersih gelombang panjang (mm/hari)

Rn       =  f(t) × f(ed) × f(n/N)………………………………………………(10)

f(t)       = fungsi suhu

f(ed)    = fungsi tekanan uap

f(n/N)  = fungsi kecerahan matahari

f(u)      = 0,27 (1 + u × 0,864)………………………………..…………….(11)

f(u)      = fungsi kecepatan angin

f(n/N)  = 0,1 + 0,9 n/N…………………………………………..…………(12)

ea – ed        = defisit tekanan uap yaitu selisish antara tekanan uap jenuh (ea) pada T rata-rata dalam (mbar) dan tekanan uap sebenarnya (ed) dalam (mbar)

ea=ed  = ea × RH/100………………………………………………………(13)

Formulasi inilah yang dipakai dalam Metode Mock untuk menghitung besarnya evapotranspirasi potensial. Besarnya evapotranspirasi potensial ini dinyatakan dalam mm/hari. Berikut ini adalah tabel hubungan T dengan Ea, W dan f(T).

Tabel 2.8 Hubungan T dengan Ea, W dan f(T)

Suhu (T) Ea W (1 – W) f(t)
mbar Elevasi 1 – 250 m
20 23,40 0,68 0,32 14,60
21 24,90 0,70 0,30 14,80
22 26,40 0,71 0,29 15,00
23 28,10 0,72 0,28 15,20
24 29,80 0,73 0,27 15,40
25 31,70 0,74 0,26 15,70
26 33,60 0,75 0,25 15,90
27 35,70 0,76 0,24 16,10
28 37,80 0,77 0,23 16,30
29 40,10 0,78 0,22 16,50
30 42,40 0,78 0,22 16,70
31 44,90 0,79 0,21 17,00
32 47,60 0,80 0,20 17,20
33 50,30 0,81 0,19 17,50
34 53,20 0,81 0,19 17,70
35 56,20 0,82 0,18 17,90
36 59,40 0,83 0,17 18,10
37 62,80 0,84 0,16 18,30
38 66,30 0,84 0,16 18,50
39 69,90 0,85 0,15 18,70

Sumber : PLTMH Pinembani

Besarnya radiasi matahari tergantung letak lintang. Besarnya radiasi matahari ini berubah-ubah menurut bulan, seperti Tabel 2.9 pada halaman berikut ini. Koefisien refleksi sangat berpengaruh pada evapotranspirasi. Tabel 2.10 memuat nilai koefisien refleksi yang digunakan dalam metode Mock. Sedangkan tabel angka koreksi (c) bulanan untuk rumus Penman dapat dilihat pada Tabel 2.11.

Tabel 2.9 hubungan Nilai Radiasi ekstra Matahari (Ra) dengan letak lintang (untuk daerah Indonesia 5 LU – 10 LS)

Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Tahun
5º LU 13,7 14,5 15 15 14,5 14,1 14,2 14,6 14,9 14,6 13,9 13,4 14,39
14,5 15 15,2 14,7 13,9 13,4 13,5 14,2 14,9 15 14,6 14,3 14,45
5º LS 15,2 15,4 15,2 14,3 13,2 12,5 12,7 13,6 14,7 15,2 15,2 15,1 14,33
10º LS 15,8 15,7 15,1 13,8 12,4 11,6 11,9 13 14,4 15,7 15,7 15,8 14,21

Sumber : Sudirman (2002)

Tabel 2.10 Koefisien Refleksi, r

No Permukaan Koefisien Refleksi
1 Rata-rata permukaan bumi 40%
2 Cairan salju yang jatuh diakhir musim masih segar 40 -85%
3 Spesies tumbuhan padang pasir dengan daun berbulu 30 – 40%
4 Rumput, tinggi dan kering 31 – 33 %
5 Permukaan padang pasir 24 – 28%
6 Tumbuhan hijau yang membayangi seluruh tanah 24 – 27%
7 Tumbuhan muda yang membayangi sebagian tanah 15 – 24%
8 Hutan musiman 15 – 20%
9 Hutan yang menghasilkan buah 10 – 15%
10 Tanah gundul kering 12 – 16%
11 Tanah gundul lembab 10 – 12%
12 Tanah gundul basah 8 – 10%
13 Pasir, basah – kering 9 – 18%
14 Air bersih, elevasi matahri 45 5%
15 Air bersih, elevasi matahari 20 14%

Sumber : Sudirman (2002)

Tabel 2.11 Angka Koreksi (c) Bulanan Untuk Rumus Penman

Bulan C Bulan C
Januari 1,04 Juli 0,9
Februari 1,05 Agustus 1
Maret 1,06 September 1,1
April 0,9 Oktober 1,1
Mei 0,9 Nopember 1,1
Juni 0,9 Desember 1,1

Sumber : Ir. Agus Suroso, MT

B.  Kelebihan Air (Water Surplus)

Besarnya air lebih dapat mengikuti formula sebagai berikut :

WS             = ΔS – tampungan air ………………………………………………(14)

Dimana       :

WS                           = water surplus

S                               = R – Ea

Tampungan Tanah    = Perbedaan kelembaban tanah

C.  Limpasan total

Air hujan yang telah mengalami evapotranspirasi dan disimpan dalam tanah lembab selanjutnya melimpas di permukaan (surface run off) dan mengalami perkolasi. Berikutnya, menurut Mock besarnya infiltrasi adalah water surplus (WS) dikalikan dengan koefisien infiltrasi (if), atau :

Infiltrasi (I) = WS × if …………………………………………………………..(15)

Koefisien infiltrasi ditentukan oleh kondisi porositas dan kemiringan daerah pengaliran. Lahan yang bersifat porous umumnya memiliki koefisien yang cenderung besar. Namun jika kemiringan tanahnya terjal dimana air tidak sempat mengalami infiltrasi dan perkolasi ke dalam tanah, maka koefisien infiltrasinya bernilai kecil.

Infiltrasi terus terjadi sampai mencapai zona tampungan air tanah (ground water storage, disingkat GS). keadaan perjalanan air di permukaan tanah dan di dalam tanah diperlihatkan dalam gambar

Dalam metode ini, besarnya groundwater storage (GS) dipengaruhi oleh :

  1. Infiltrasi (I). Semakin besar infiltrasi maka groundwater storage semakin besar pula, dan begitu sebaliknya.
  2. Konstanta resesi aliran bulanan (K). Konstanta resesi aliran bulanan (montly flow recession constan) disimbolkan dengan K adalah proporsi dari air tanah bulan lalu yang masih ada bulan sekarang. Nilai K ini cenderung lebih besar pada bulan basah. Nilai k diambil antara 0 – 1,0.
  3. Groundwater storage bulan sebelumnya (GSom). Nilai ini diasumsikan sebagi konstanta awal, dengan anggapan bahwa water balance merupakan siklus tertutup yang ditinjau selama rentang waktu menerus tahunan tertentu. Dengan demikian maka nilai asumsi awal bulan pertama tahun pertama harus dibuat sama dengan nilai bulan terakhit tahun terakhir.

Dari ketiga faktor diatas, mock merumuskan sebagai berikut :

GS              = {0,5 × (1 + K) × I} + {K × GSom}………………………………(16)

Gambar 2.8 Perjalan Air Hujan Sampai Terbentuk Debit

Seperti telah dijelaskan, metode Mock adalah metode memprediksi debit didasarkan pada water balance. Oleh sebab itu, batasan-batasan water balance ini harus dipenuhi. Salah satunya adalah bahwa perubahan groundwater storage (ΔGS) selama rentang waktu tahunan tertentu adalah nol, atau (misalnya untuk 1 tahun) :

Perubahan groundwater storage (ΔGS) adalah selisih antara groundwater storage bulan yang ditinjau dengan groundwater storage bulan sebelumnya. Perubahan groundwater storage ini penting bagi terbentuknya aliran dasar sungai (base flow, disingkat BF). Dalam hal ini base flow merupakan selisih antara infiltrasi dengan perubahan groundwater storage, dalam bentuk persamaan :

BF  = I – ΔGS…………………………………………………………………..(17)

Jika pada suatu bulan ΔGS bernilai negatif  (terjadi karena GS bulan yang ditinjau lebih kecil dari bulan sebelumnya), maka base flow akan lebih besar dari nilai infiltrasinya. Karena water balance merupakan siklus tertutup dengan periode tahunan tertentu (misalnya 1 tahun) maka perubahan groundwater storage (ΔGS) selama 1 tahun adalah nol. Dari persamaan di atas maka dalam 1 tahun jumlah base flow akan sama dengan jumlah infiltrasi.

Selain base flow, komponen debit yang lain adalah direct run off (limpasan langsung) atau surface fun off (limpasan permukaan). Limpasan permukaan berasal dari water surplus yang telah mengalami infiltrasi. Jadi direct run off dihitung  dengan persamaan :

DRO           = WS – I……………………………………………………………(18)

Setelah base flow dan direct run off komponen pembentuk debit yang lain adalah storm run off, yaitu limpasan langsung ke sungai yang terjadi selama hujan deras. Storm run off ini hanya beberapa persen saja dari hujan.. storm run off hanya dimasukkan ke dalam total run off, bila presipitasi kurang dari nilai maksimum soil moisture capacity. Menurut  Mock storm run off dipengaruhi oleh percentage factor, disimbolkan dengan PF. Percentage factor adalah persen hujan yang menjadi limpasan. Besarnya PF oleh Mock disarankan 5% – 10%, namun tidak menutup kemungkinan untuk meningkat secara tidak beraturan hingga mencapai 37,3%.

Dalam perhitungan debit ini, Mock menetapkan bahwa :

  1. Jika presipitasi (P) > maksimum soil moisture capacity maka nilai storm run off = 0.
  2. Jika P < maksimum soil moisture capacity maka storm run off adalah jumlah curah hujan dalam satu bulan yang bersangkutan dikali percentage factor, atau :

SRO = P × PF

Dengan demikian maka total run off (TRO) yang merupakan komponen-komponen pembentuk debit sungai (stream flow) adalah jumlah antara base flow, direct run off dan storm run off, atau :

TRO = BF + DRO + SRO……………………………………………….……(19)

Total run off ini dinyatan dalam mm/bulan. Maka jika TRO ini dikalikan dengan catchment area (luas daerah tangkapan air) dalam km2 dengan suatu angka konversi tertentu didapatkan besaran debit dalam m3/det.

2.4         Kebutuhan Air Irigasi

Kebutuhan air irigasi merupakan jumlah air irigasi yang digunakan oleh lahan dan tanaman pada selang waktu dan jumlah tertentu. Kebutuhan air untuk padi meliputi kebutuhan air untuk pengolahan tanah, pembibitan, penggenangan dan untuk pertumbuhan sampai saat panen. Sedangkan untuk tanaman bukan padi (palawija) hanya untuk pertumbuhannya saja.

Kebutuhan air irigasi adalah jumlah air yang diperlukan tanaman untuk memenuhi kebutuhan air tanaman dengan luasan tertentu. Kebutuhan air ini meliputi kebutuhan untuk evapotranspirasi, perkolasi dan perembesan saluran. Kebutuhan air untuk palawija hanya untuk pertumbuhannya saja yang dinyatakan dengan evapotranspirasi tanaman. Akan tetapi untuk tanaman padi kebutuhan air meliputi kebutuhan untuk evapotranspirasi, pengolahan lahan, pertumbuhan sampai saat panen, serta kebutuhan air untuk mengganti air yang hilang karena adanya perkolasi serta penggenangan dilahan (Linsley dan Franzini, 1979).

Kebutuhan air irigasi dipengaruhi oleh beberapa faktor :

  1. Kebutuhan untuk penyiapan lahan
  2. Kebutuhan air konsumtif untuk tanaman
  3. Kebutuhan air untuk penggantian lapisan air
  4. Perkolasi
  5. Efisiensi air irigasi
  6. Luas areal irigasi
  7. Curah hujan efektif

Kebutuhan total air di sawah mencakup faktor a samapi dengan f, sedangkan kebutuhan bersih air irigasi di sawah mencakup faktor a sampai g.

Persamaan untuk menghitung kebutuhan bersih air irigasi di sawah :

IG =  × A ………………………………………..…………….(20)

Dengan :

IG        = kebutuhan air (m3)

IR        = kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm/hari)

ETc      = kebutuhan air konsumtif (mm/hari)

RW      = kebutuhan air untuk penggantian lapisan air (mm/hari)

P          = perkolasi (mm/hari)

ER       = hujan efektif (mm/hari)

EI        = efisiensi irigasi

A         = luas areal irigasi (m2)

  1. Kebutuhan Air Untuk Penyiapan Lahan (IR)

Kebutuhan air untuk penyiapan lahan umumnya sangat menentukan kebutuhan maksimum air irigasi. Bertujuan untuk mempermudah pembajakan dan menyiapkan kelembaban tanah guna pertumbuhan tanaman. Metode ini didasarkan pada kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi di sawah  yang sudah dijenuhkan selama periode penyiapan lahan. Faktor-faktor penting yang menentukan besarnya kebutuhan air untuk penyiapan lahan adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan  penyiapan lahan dan jumlah air yang diperlukan untuk penyiapan lahan. Untuk perhitungan kebutuhan air irigasi untuki penyiapan lahan dapat digunakan metode yang dikembangkan  Van De Goor dan  Zijlstra (1968). Persamaannya ditulis sebagai berikut.

IR = M  ……………………………………………………….(21)

Dengan :

IR   =  kebutuhan air irigasi di tingkat persawahan (mm/hari)

M    = kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi di sawah yang telah dijenuhkan

= Eo + P ……………………………………………………………………(22)

Eo   = 1,1 x Eto ………………………………………………………………….(23)

P     = perkolasi (mm/hari)

k     = (M x T)/S ………………………………………………………………..(24)

T     = jangka waktu penyiapan lahan (hari)

S     = kebutuhan air untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50 mm

Perhitungan kebutuhan air untuk penyiapan lahan digunakan T = 30 hari dan S = 250 mm untuk penyiapan lahan padi pertama S = 200 mm untuk penyiapan lahan padi kedua. Ini sudah termasuk banyaknya air untuk penggenangan setelah transplantasi, yaitu sebesar sebesar 50 mm serta kebutuhan untuk persemaian.tabel kebutuhan air irigasi selama masa penyiapan lahan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2.12 Kebutuhan Air Irigasi Selama Masa Penyiapan Lahan

Eo + P (mm/hari) T = 30 hari T = 45 hari
S = 250 mm S = 300 mm S = 250 mm S = 300 mm
5,0 11,1 12,7 8,4 9,5
5,5 11,4 13,0 8,8 9,8
6,0 11,7 13,3 9,1 10,1
6,5 12,0 13,6 9,4 10,4
7,0 12,3 13,9 9,8 10,8
7,5 12,6 14,2 10,1 11,1
8,0 13,0 14,5 10,5 11,4
8,5 13,3 14,8 10,8 11,8
9,0 13,6 15,2 11,2 12,1
9,5 14,0 15,5 11,6 12,5
10,0 14,3 15,8 12,0 12,9
10,5 14,7 16,2 12,4 13,2
11,0 15,0 16,5 12,8 13,6

Sumber : KP – 01 (1986)

  1. Keutuhan Air Untuk Konsumtif (ETc)

Kebutuhan air konsumtif diartikan sebagai kebutuhan air untuk tanaman di lahan dengan memasukkan faktor koefisien tanaman (kc). Persamaan umum yang digunakan sebagai berikut:

Etc = Eto x kc …………………………………………………………….(25)

Dengan:

Etc  = kebutuhan air konsumtif (mm/hari),

Eto  = evapotranspirasi (mm/hari),

Kc   = koefisien tanaman.

Kebutuhan air konsumtif ini dibutuhkan untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan. Air dapat menguap melalui permukaan air atau tanah maupun melalui tanaman. Bila kedua proses tersebut terjadi bersama-sama, terjadilah proses evapotranspirasi, yaitu gabungan antara penguapan air bebas (evaporasi) dan penguapan melalui tanaman (transpirasi). Dengan demikian besarnya kebutuhan air konsumtif ini adalah sebesar air yang hilang akibat proses evapotranspirasi dikalikan dengan koefisien tanaman.

Evapotranspirasi dapat dihitung dengan metoda Penman berdasarkan data klimatologi setempat. Nilai koefisien tanaman (kc) mengikuti cara ndeco atau prosidan seperti tercantum dalam dirjen pengairan (1985), yaitu varietas biasa dengan masa pertumbuhan tanaman padi selama 3,5 bulan dan dapat dilihat pada Tabel 2.13 dan Tabel 2.14.

Tabel 2.13 Koefisien Tanaman Padi dan Jagung

Umur  (Bulan) Padi (Nedeco/Prosida) Padi (FAO) Jagung (90)
Lokal Unggul Lokal Unggul
0,5 1,2 1,2 1,1 1,1 0,5
1 1,2 1,27 1,1 1,1 0,59
1,5 1,32 1,33 1,1 1,05 0,98
2 1,4 1,3 1,1 1,05 1,05
2,5 1,35 1,15 1,05 0,95 1,02
3 1,24 0 1,05 0 0,95
3,5 1,12 0,95
4 0 0

Sumber : Dirjen Pengairan (1985)

Tabel 2.14 Koefisien Tanaman Padi dan Palawija

Tanaman Periode
I II III IV V VI VII
Padi 1,02 1,02 1,20 1,32 1,40 1,35 1,24
Palawija 0,40 0,55 0,55 0,70 0,70 0,30

Sumber : Parlindungan H (1996)

  1. Kebutuhan Air Untuk Penggantian Lapisan Air (RW)

Kebutuhan air untuk penggantian lapisan air ditetapkan berdasarkan Standar Perencanaan Irigasi (1986). Penggantian lapisan air dilakukan sebanyak dua kali dalam sebulan, masing-masing dengan ketebalan 50 mm (50 mm/bulan atau 3,3 mm/hari) dan dua bulan setelah transplantasi.

  1. Pekolasi (P)

Perkolasi adalah masuknya air dari daerah tak jenuh ke dalam daerah jenuh air, pada proses ini air tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Laju perkolasi sangat tergantung pada sifat tanah daerah tinjauan yang dipengaruhi oleh karakteristik geomorfologis dan pola pemanfaatan lahannya. Berdasarkan sifat tanahnya nilai laju perkolasi dapat dilihat pada Tabel 2.15.

Tabel 2.15 Nilai Perkolasi

No Jenis tanah Nilai perkolasi (mm/hari)
1 Tanah lempungan 1,0-2,0
2 Tanah lempung pasiran 2,0-3,0
3 Tanah pasiran 3,0-6,0

Sumber : Dirjen Pengairan, Bina Program PSA 010, 1985

  1. Curah Hujan Efektif (ER)
    1. Curah hujan efektif

Curah hujan efektif diperoleh dari data hujan data stasiun pengamatan hujan terdekat. Data hujan andalan 80%, sedangkan hujan efektif harian yang dipakai adalah sebesar 70% dari hujan andalan 80% seperti diberikan pada Standar Perencanaan Irigasi (1986).

Re          = 0,7 ×  R80

Dimana :

Re             = curah hujan efektif (mm/hari)

R80        = curah hujan minimum tengah bulanan dengan kemungkinan terpenuhi 80 %.

  1. Koefisien curah hujan efektif

Besarnya koefisien curah hujan efektif untuk tanaman padi berdasarkan Tabel 2.16.

Tabel 2.16 Koefisien Curah Hujan Untuk Padi

Bulan Golongan
1 2 3 4 5 6
0,5 0,36 0,18 0,12 0,09 0,07 0,06
1 0,7 0,53 0,35 0,26 0,21 0,18
1,5 0,4 0,55 0,46 0,36 0,29 0,24
2 0,4 0,4 0,5 0,46 0,37 0,31
2,5 0,4 0,4 0,4 0,48 0,45 0,37
3 0,4 0,4 0,4 0,4 0,46 0,44
3,5 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,45
4 0 0,2 0,27 0,3 0,32 0,33
4,5 0,13 0,2 0,24 0,27
5 0,1 0,16 0,2
5,5 0,08 0,13
6 0,07

Sumber : Dirjen Pengairan, Bina Program PSA 010 (1985)

  1. Efisiensi Irigasi (EI)

Untuk tujuan-tujuan perencanaan, dianggap bahwa 1/4 sampai 1/3 dari jumlah air yang diambil akan hilang sebelum air itu sampai disawah. Kehilangan ini disebabkan oleh kegiatan eksploitasi, evaporasi dan perembesan. Kehilangan akibat evaporasi dan perembesan umumnya kecil jika dibandingkan dengan jumlah kehilangan akibat kegiatan eksploitasi. Penghitungan rembesan hanya dilakukan apabila kelulusan tanah cukup tinggi (KP-03, 1986). Pada umumnya kehilangan air dijaringan irigasi dapat dibagi-bagi, berdasarkan KP-03 adalah sebagai berikut :

–       15-22,5% dipetak tersier, antara bangunan sadap tersier dan sawah

–       7,5-12,5% disaluran sekunder

–       7,5-15,5% disaluran utama.

  1. Luasan Areal Irigasi (A)

Yang dimaksud dengan luas areal irigasi disini adalah luas semua lahan pertanian yang kebutuhan airnya dilayani oleh suatu sistem irigasi tertentu. Yang termasuk dalam sistem irigasi mencakup irigasi teknis, irigasi  setengah teknis, irigasi sederhana maupun irigasi desa.

Penjadwalan Konstruksi

PERT singkatan dari Program Evalution Review Technique sedangkan CPM Critical Path Method.

PERT and CPM adalah suatu alat manajemen proyek yang digunakan untuk melakukan penjadwalan, mengatur dan mengkoordinasi bagian-bagian pekerjaan yang ada didalam suatu proyek.

Irigasi Bangunan Air

Bab I
PENDAHULUAN

1.1. DEFINISI.

Irigasi didefinisikan sebagai suatu cara pemberian air, baik secara alamiah ataupun buatan kepada tanah dengan tujuan untuk memberi kelembapan yang berguna bagi pertumbuhan tanaman.

SECARA ALAMIAH :

1. Secara alamiah air disuplai kepada tanaman melalui air hujan.

2. Cara alamiah lainnya, adalah melalui genangan air akibat banjir dari sungai, yang akan menggenangi suatu daerah selama musim hujan, sehingga tanah yang ada dapat siap ditanami pada musim kemarau.

SECARA BUATAN :

Ketika penggunaan air ini mengikutkan pekerjaan rekayasa teknik dalam skala yang cukup besar, maka hal tersebut disebut irigasi buatan ( Artificial Irrigation ).

Irigasi buatan secara umum dapat dibagi dalam 2 ( dua ) bagian :

1. Irigasi Pompa ( Lift Irrigation ), dimana air diangkat dari sumber air yang rendah ke tempat yang lebih tinggi, baik secara mekanis maupun manual.

2. Irigasi Aliran ( Flow Irrigation ), dimana air dialirkan ke lahan pertanian secara gravitasi dari sumber pengambilan air.

1.2. RUANG LINGKUP / SKOPE PEMBAHASAN

Ruang lingkup pembahasan pada materi ini adalah :

1. Sepanjang dalam kaitannya dengan pekerjaan pembangunan dan pemeliharaan bangunan yang bertujuan untuk membawa air dari sumber air ke lahan pertanian, maka hal itu merupakan cabang dari Teknik Rekayasa.

2. Sedangkan sepanjang dalam kaitan dengan tata cara pemberian air ke tanaman secara tepat waktu, tepat jumlah dan tepat caranya, maka hal itu merupakan bidang Pertanian.

Tetapi untuk dapat menjamin suatu perencanaan jaringan irigasi benar-benar ekonomis, seorang Ahli Teknik harus mengerti dan menguasai semua aspek tersebut diatas.

1.3. TUJUAN dan MANFAAT IRIGASI

1.3.1. Tujuan Irigasi.

Sesuai dengan definisi irigasinya, maka tujuan irigasi pada suatu daerah adalah upaya rekayasa teknis untuk penyediaaan dan pengaturan air dalam menunjang proses produksi pertanian, dari sumber air ke daerah yang memerlukan serta mendistribusikan secara teknis dan sistematis.

1.3.2. Manfaat Irigasi.

Adapun manfaat dari suatu sistem irigasi, adalah :

a. untuk membasahi tanah, yaitu pembasahan tanah pada daerah yang curah hujannya kurang atau tidak menentu.
b. Untuk mengatur pembasahan tanah, agar daerah pertanian dapat diairi sepanjang waktu pada saat dibutuhkan, baik pada musim kemarau maupun musim penghujan.
c. Untuk menyuburkan tanah, dengan mengalirkan air yang mengandung lumpur & zat – zat hara penyubur tanaman pada daerah pertanian tersebut, sehingga tanah menjadi subur.
d. Untuk kolmatase, yaitu meninggikan tanah yang rendah / rawa dengan pengendapan lumpur yang dikandung oleh air irigasi.
e. Untuk pengelontoran air , yaitu dengan mengunakan air irigasi, maka kotoran / pencemaran / limbah / sampah yang terkandung di permukaan tanah dapat digelontor ketempat yang telah disediakan ( saluran drainase ) untuk diproses penjernihan secara teknis atau alamiah.
f. Pada daerah dingin, dengan mengalirkan air yang suhunya lebih tinggi dari pada tanah, sehingga dimungkinkan untuk mengadakan proses pertanian pada musim tersebut.

1.4. KEUNTUNGAN IRIGASI

Keuntungan dari pada dibangunannya suatu sistem irigasi dan bangunan-nya, secara umum adalah sebagai berikut :

1. Mengatasi kekurangan pangan / bahaya kelaparan.

• Sifat hujan ini hanyalah musiman dan sering tidak tentu.
• Keterbatasan kondisi kemampuan para petani dipedesaan yang amat rendah dan bahkan sedikit punya kelebihan persediaan bahan makanan, maka pada musim paceklik / kemarau yang panjang akan mengakibatkan terjadinya bahaya kelaparan.
• Dengan adanya jaringan irigasi, ketersediaan air lebih terjamin.

2. Meningkatkan produksi dan nilai jual hasil tanaman.

• Produksi dari hampir semua jenis tanaman akan meningkat, dengan adanya pemberian air yang tepat waktu dan tepat jumlah.
• Dengan melakukan percobaan-percobaan kita dapat mengetahui kebutuhan air yang opotimum untuk suatu jenis tanaman pada daerah tertentu, sehingga dapat dihasilkan tingkat produksi tanaman yang paling maksimum.
• Pemberian air yang kurang ataupun melebihi jumlah air yang diperlukan akan menurunkan tingkat produksi tanaman tersebut.
• Ketika ketersediaan air terjamin secara terus menerus, maka tanaman-tanaman yang unggul / lebih baik secara alamiah akan mengungguli tanaman yang kurang baik, sehingga yang tertinggal adalah tanaman-tanaman yang unggul yang lolos dari seleksi alam. Dengan demikian hasil produksinyapun akan lebih baik dalam hal kualitas.
• Dengan kualitas produksi yang lebih baik akan meningkatkan nilai jual dari tanaman tersebut.
• Berkurangnya / menghilangnya tanaman campuran ( mixed cropping ).

Mixed Cropping adalah cara penanaman beberapa jenis tanaman pada lahan yang sama, suatu cara bagi para petani untuk menjamin keberhasilan panen dalam menghadapi ketidak pastian musim.

Mixed Cropping selalu dihindari dalam program peningkatan pertanian, karena :

a. Setiap tanaman memerlukan persiapan khusus dalam hal penyiapan lahan, pemberian pupuk, pemberian air dan lain-lain. Jika 2 (dua) jenis tanaman atau lebih ditanam bersama dalam satu lahan, maka lahan tersebut sulit untuk dipersiapkan khusus hanya untuk satu jenis tanaman saja.
b. Bagaimana pun hati-hatinya dalam proses panen akan selalu terjadi adanya pencampuran atas hasil panen, sehingga akan menurunkan nilai jual dan reputasi produk dipasaran.

3. Peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Indonesia dengan penduduknya yang hampir mencapai 200 juta jiwa, sebagian besar menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Dengan terjaminnya serta dapat berkembangnya sektor pertanian, berarti akan membantu pemerintah secara nyata dalam meningkatkan Produk Domestik Bruto ( GDP ), hal ini terbukti dimana pada saat krisis moneter yang baru saja kita alami ternyata sektor pertanianlah yang paling sedikit terpengaruh bahkan dapat berjaya, sperti coklat, kopi, dll.

4. Pembangkit Tenaga Listrik.

Pada proyek yang direncanakan terutama untuk irigasi, penambahan sebagai pembangkit tenaga listrik biasanya dapat dilakukan dengan biaya yang relatif tidak terlalu besar. Pada proyek besar sekarang ini biasanya direncanakan dari awal sudah untuk irigasi dan pembangkit tenaga listrik.

5. Transportasi Air ( Inland Navigation ).

Saluran irigasi dapat dipergunakan sebagai prasarana transportasi air. Pada saat ini hal tersebut masih / sudah jarang dilakukan, karena faktor kecepatan yang kurang, tetapi dari segi biaya maka transportasi air ( Inland Navigation ) adalah sarana tranport yang paling murah, sehingga dapat mengurangi beban transportasi darat yaitu jalan raya atau kereta api.

6. Effek terhadap Kesehatan

Dampak langsung dengan adanya saluran irigasi adalah meningkatnya kelembaban , sehingga akan membangkit-kan bahaya malaria, kecuali dilakukan langkah-langkah pencegahan seperti tersedianyan fasilitas drainage yang baik, tidak membiarkan adanya genangan pada bekas galian ( Borrow Pit ), dll., sehingga efek kelembaban dapat diminimalisir. Dampak tidak langsung adalah mengurangi tingkat kegagalan panen dan meningkatkan produksi pangan, sehingga akan meningkatkan gizi penduduk.

7. Supply Air Baku.

Pada beberapa daerah yang terpencil, saluran irigasi kadang-kadang merupakan satu-satunya sumber air untuk keperluan domestik karena sumur yang ada harus digali yang dalam untuk mendapatkan air.

8. Peningkatan Komunikasi / Transportasi.

Pada semua saluran irigasi yang penting biasanya disediakan jalan inspeksi untuk melakukan pengontrolan, Jalan ini biasanya bukan jalan umum dan mempunyai konstruksi yang sederhana, tetapi kadang-kadang didaerah pedalaman jalan ini adalah satu-satunya jalan yang tersedia.

1.5. PRASARANA dan SARANA DASAR PENGAIRAN.

Jaringan Irigasi terdiri dari :

1. Skema Daerah Irigasi

• Secara tipikal gambaran skema daerah irigasi dapat diperiksa pada gambar peta dasar irigasi.

2. Klasifikasi Jaringan Irigasi

Air hujan yang jatuh ke daratan sebagian akan mengalir dipermukaan tanah sebagai air permukaan ( sungai, danau, dan genangan air ), sebagian lainnya meresap kedalam tanah sebagai air tanah yang mengisi rongga, cekungan dan pori lapisan tanah/batuan dan seterusnya mengalir untuk kemudian muncul di danau atau muncul dipermukaan sebagai mata air, dan sebagian lagi menguap langsung ataupun melalui tetumbuhan ke udara.

 Klasifikasi didasarkan menurut kriteria jenis sumber air, yaitu :

• Irigasi air permukaan
• Irigasi air tanah

 Klasifikasi menurut jenis kondisi prasarana dan kelengkapannya ( Kelas Jaringan ), yaitu :

• Jaringan Irigasi teknis
• Jaringan Irigasi semi teknis
• Jaringan Irigasi sederhana

Diluar klasifikasi tersebut diatas, dikenal pula adanya 2 (dua) jaringan irigasi lainnya, yaitu :

• Jaringan pedesaan.

Jaringan Irigasi Teknis.

Adalah jaringan irigasi yang konstruksi bangunan-bangunannya dibuat permanen, dilengkapi dengan pintu-pintu pengatur dan alat pengukur debit air, sehingga yang dialirkan ke petak-petak sawah dapat diatur dan diukur dengan baik.

Pada sistem jaringan ini, antara saluran pembawa dengan saluran pembuang ( drainage ) terpisah secara jelas.

Jaringan Irigasi Semi Teknis

Adalah jaringan irigasi yang konstruksi bangunannya dibuat permanen atau semi permanen, dilengkapi dengan pintu-pintu pengatur akan tetapi tidak dilengkapi dengan bangunan / alat pengukur debit air.

Dalam sistem jaringan ini, antara saluran pembawa dengan saluran pembuang ( drainage ) tidak sepenuhnya terpisah.

Jaringan Irigasi Sederhana

Adalah jaringan irigasi yang konstruksi bangunan-bangunannya masih bersifat tidak permanen ( sementara ), dan jaringan ini juga tidak dilengkapi dengan pintu-pintu pengatur maupun bangunan / alat pengukur debit air.

Dan antara saluran pembawa dengan saluran pembuang ( drainage ) tidak terpisah, masih menjadi satu.

Jaringan Irigasi Pedesaan

Adalah jaringan irigasi yang bersifat tradisional, yang dibangun dan dikelola sepenuhnya secara swadaya oleh sekelompok petani / desa.

Uraian gambar secara rinci dapat dilihat pada halaman gambar pendukung.

3. Bangunan Utama Irigasi

 Bangunan utama dalam pengertian irigasi adalah bangunan yang dipergunakan untuk menangkap atau mengambil air dari sumbernya ( seperti sungai atau mata air lainnya ).

Bangunan utama dapat berupa :

• Waduk atau Bendungan
• Bendung
• Bendung tetap
• Bendung gerak
• Bangunan Pengambilan bebas ( free intake ).
• Pompa dan Kincir Angin
• Pengambilan Bebas

Waduk

Adalah wadah air yang terbentuk sebagai akibat dibangunnya bangunan sungai dalam hal ini bangunan bendung dan berbentuk pelebaran alur / badan / palung sungai.
Termasuk jenis bangunan ini adalah : Waduk Lapangan, Embung dan Situ.

Bendung

Bangunan di sungai yang berfungsi untuk menaikkan muka air sampai pada elevasi tertentu.
Bendung dapat berupa : Bendung Tetap atau Bendung Gerak.

Bendung Tetap

Adalah bangunan untuk meninggikan muka air di sungai pada ketinggian yang deperlukan, agar air dapat mengalir ke saluran pembawa sampai ke petak tersier. Bendung Tetap ini ada yang permanen ( misal dari pasangan batu atau beton ), semi permanen ( misal dari bronjong ), ataupun tidak permanen ( misal dari tumpukan batu atau kayu ). Bendung Tetap dilengkapi dengan Kantong Lumpur yang berfungsi untuk menampung dan mengendapkan bahan endapan ( lumpur, kerikil dan pasir ) agar bahan-bahan tersebut tidak terbawa masuk ke saluran di hilirnya.

Bendung Gerak

Adalah bangunan di sungai yang sebagian besar konstruksinya terdiri dari pintu-pintu yang dapat digerakkan untuk mengatur ketinggian muka air di sungai sampai pada ketinggian yang diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran pembawa sampai ke petak tersier. Termasuk jenis ini adalah Bendung Karet yang pengatur muka airnya dilakukan dengan mengembang kempiskan tubuh bendung yang terbuat dari bahan karet.

Bangunan Pengambilan

Adalah bangunan yang merupakan bagian dari bangunan utama ( waduk, bendung, dsb.), yang berfungsi untuk menyadap air / mengalirkan air dari sumber air / sungai ke saluran induk.

Kantong Lumpur

Adalah bangunan yang berada di pangkal saluran induk, yang berfungsi untuk menampung dan mengendapkan lumpur, pasir dan kerikil, supaya bahan endapan tersebut tidak terbawa sepanjang saluran dihilirnya. Bangunan ini mempunyai sistem pembilas ( pintu pembilas ) dan dibilas pada waktu-waktu tertentu.

Pompa dan Kincir

Pompa

Adalah alat untuk menaikkan muka air sampai elevasi yang diperlukan secara mekanis / hidraulis.

Kincir Air

Adalah alat yang dipergunakan untuk menaikkan air sampai elevasi yang diperlukan, dengan mempergunakan tenaga kincir yang digerakkan oleh aliran air sungai.

Kincir Angin

Adalah alat yang dipergunakan untuk menaikkan air sampai elevasi yang diperlukan, dengan mempergunakan kincir berupa baling-baling yang digerakkan oleh tenaga angin.

Pengambilan Bebas

Adalah bangunan yang dibuat ditepi sungai yang mengalirkan air sungai ke dalam jaringan irigasi tanpa mengatur tinggi muka air sungai.

4. Pohon Irigasi

Data mengenai luas lahan pertanian dan debit aliran irigasi dapat disajikan dalam bentuk diagram pohon dan tabel ( lihat pada halaman gambar pendukung ).

Sistem Plambing

Sistem Plambing Dalam Gedung

PRESENTASI SIDANG KP

Perencanaan Pelabuhan

Definisi Pelabuhan :
Pelabuhan adalah sarana dan prasarana perhubungan laut, terletak di daratan dan perairan sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

Dasar Perencanaan Pelabuhan :
1. Menentukan tujuan dan sasaran pembangunan pelabuhan

2. Memprediksikan lalu lintas pelabuhan (pengumpulan data pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi, asal dan tujuan kapal, bongkar muat barang, jumlah kapal yang berkunjung)

3. Pengolahan data (klasifikasi jenis barang, membuat grafik)

4. Analisa data dan membuat alternative skenario (analisa berdasarkan jangka waktu, kapasitas barang dan kapasitas kapal)

5. Penelitian luas terhadap kondisi lingkungan (goelogi, klimatologi, topografi, geoteknik)

6. Desain pelabuhan (Fasilitas darat (terminal, gudang, area parker, drainase, dll);Fasilitas perairan (dermaga, alur pelayaran, kolam pelabuhan, bangunan pelindung pelabuhan, fasilitas keamanan)

7. Analisa ekonomi

8. Memilih skenario yang paling menguntungkan

9. Pengelolaan, pengembangan manajemen pelabuhan serta pemeliharaan

 

Klasifikasi Pelabuhan 

berdasarkan :

1. segi penyelenggara

  • pelabuhan umum
  • pelabuhan khusus

2. segi pengusahaan

  • pelabuhan yang diusahakan
  • pelabuhan yang tidak diusahakan

3. segi perdagangan

  • pelabuhan pantai
  • pelabuhan laut

4. segi penggunaannya

  • pelabuhan barang
  • pelabuhan penumpang
  • pelabuhan campuran
  • pelabuhan militer
  • pelabuhan pertambangan

5. segi geografis

  • pelabuhan alami
  • pelabuhan semi alami
  • pelabuhan buatan

Land Clearing

ALAT-ALAT LAND CLEARING

TUGAS PRESENTASI WADUK

WADUK KARANGKATES