Di sudut jalan ibukota tersebutlah seorang ayah yang mempunyai dua anak. Mendorong dan menarik sebuah gerobak merupakan kegiatan kesehariannya. Bekerja sejak pagi dan pulang petang. Seorang ayah tersebut bernama Pak Sardi. Pak sardi yang lebih dikenal dengan sebutan pak Di hanyalah satu dari keseribu pengrajin rongsokan di Jakarta. Tiap hari pak Di hanya memungut sisa-sisa karton, kertas, kardus, plastic-plastik dan barang rongsokan yang dikiranya masih bisa berguna ataupun dijual. Meskipun pendapatan pak Di kecil ia tetap berjuang untuk menghidupi kedua anaknya. Sehari-hari pak Di bisa mendapatkan uang sebesar sepuluh ribu rupiah saja. Miris memang, tetapi itu cukup di guman-mannya. Pak Di dan kedua anaknya terpaksa makan hanya sehari sekali. “Kehidupan ibukota memang sangat kejam, tetapi jika kita tidak berusaha itu sama saja kita menyerah” celetuk pak Di kepada sesamanya.
Teman pak Di bertanya, “Hey Di, mengapa kau rela bekerja seperti ini”
“Aku bekerja untuk orang yang ku cintai” balas pak Di
“Lalu mengapa harus seperti ini kau bersusah payah mendorong gerobakmu” Anto teman pak Di kembali menambahkan
“Apapun ku lakukan agar orang yang ku cintai hidup bahagia” pungkas pak Di,
“(sambil tertawa mereka pun kembali bertanya ke pak Di) bahagia? Hahahahah, mana bisa Di,, di,,”Ujang berkata
“impian ku adalah mereka bahagia” balas pak Di dengan penuh semagat,
“Lalu bagaimana? Begini saja makan susah,. Impian, jangan bermimpi tinggi-tinggilah, awas jatuh! Hahahahahaa…” tak henti mereka menertawakan pak Di
Sampai suatu ketika salah satu anak pak Di jatuh sakit. Mala putri pertama pak Di mengalami diare yang tak kunjung membaik. Sudah seminggu mala belum juga sembuh, pak Di berusaha memberikan semangat kepada putrid tercintanya. Mulai dari menggendong, menemani, sampai menjaga. Tiada lelah ia jalankan meskipun dengan memungut sisa-sisa barang bekas, hati kecilnya berkata bila bapak mempuyai cukup uang bapak akan mengantarmu ke dokter nak. Sampai akhirnya pak Di mengantarkan putrinya ke sebuah puskesmas. Dengan bermodalkan sepuluh ribu rupiah pak Di berangkat. Biaya puskesmas terhitung hanya empat ribu rupiah. Sepulang dari puskesmas kesehatan mala terlihat membaik tetapi diare itu kembali menyerangnya. Karena keterbatasan pak Di, mala pun tiap hari ia ajak bekerja, meskipun hanya berbaring di dalam gerobak. Putra pak Di yaitu tomi yang juga merupakan kakak dari mala berusaha mengajak bicara kepada adiknya yang terbaring sakit.
Tomi berkata, “dek, ayo bangun kapan kita main bersama”
Tomi pun menunggu jawaban dari adiknya itu. Meskipun ia berbicara tanpa tanggapan sang adik yang sedang sakit. Sementara pak Di terus berusaha yang terbaik demi anak-anaknya. Sampai suatu ketika terjadi masalah yang serius. Mala tak juga kunjung membaik. Matanya seakan tertutup, bicara pun lemah. Hingga akhirnya mala menghembuskan nafas terakhirnya di dalam gerobak dan disaksikan ayah beserta kakanya sendiri.
Pak Di pun memeluk anaknya dengan erat, dirinya merasa bersalah karena belum memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dengan penuh tangisan pak Di tetap membawa anaknya di dalam gerobak. Lagi-lagi karena ia belum mendapatkan uang, tubuh mala hanya di bungkus dengan sarung yang dimilikinya itu. Dan sengaja bagian kepala tetap terbuka agar orang tahu bahwa anaknya telah tiada. Dengan hati sabar pak Di berniat menguburkan anaknya di tempat kelahirannya yaitu di kota Bogor. Denga berbekal cukup uang dari sesamanya pak Di bisa sampai di Bogor dengan menumpang Kereta Api Listrik jurusan Bogor. Namun ketika sampai disebuah stasiun banyak orang ber¬¬tanya-tanya kepada pak Di.
Sampai suatu ketika ada seorang bapak berkata, “Pak, anaknya kenapa kok terlihat seperti orang sakit”.
Pak Di pun merespon hanya dengan anggukkan, kemudian menambahakan, “Mala sudah dipanggil oleh sang maha pencipta”.
Orang di sekitar stasiun geger dengan ucapan pak Di. Mereka mendekat dan semakin ramai untuk melihat apa yang sedang terjadi. Hingga suatu ketika pak Di dibawa ke pos keamanan. Mereka yang khawatir terhadap mala menyarankan agar anak pak Di cob dirujukn ke rumah sakit. Keadaan semakin ramai dan petugas kepolisian pun segera menggiring pak Di untuk di berikan penjelasan. Pihak polisi menilai mungkin saja terdapat kekerasan terhadap anak.
Namun pak Di dengan tenang menjawab, ”Sudah dua minggu ini anak saya mengalami diare yang tak kunjung sembuh, saya sudah berusaha membawanya ke puskesmas meskipun itu hanya satu kali. Dan sampai akhirnya anak saya meninggal dihadapan saya sendiri”.
Sejenak semua pun diam, pak Di yang sangat mencintai anaknya meneruskan perkataannya, “ini semua karena saya tidak mempunyai uang cukup. Pendapatan saya sebagai pemulung hanya sepuluh ribu sehari. Sementara biaya ke puskesmas empat ribu rupiah. Meskipun hanya empat ribu rupiah bagi saya itu sangat berat karena belum tentu juga saya mendapatkan sepuluh ribu berikutnya. Sisa enam ribu saya belikan untuk makan anak-anak saya. Hampir seminggu ini kami hanya makan sehari sekali. Bahkan lebih sering mendahulukan anak-anak saya”.
“bila bapak membawanya lalu siapa yang menguburnya?” gumam pak Di,
“biarkanlah saya membawa anak saya sendiri dan menguburkannya di desa saya”, tambah pak Di berkata.
Namun polisi tidak segera melepaskannya, mala di bawa ke rumah sakit untuk di Autopsi. Dan polisi berjanji pak Di tidak dikenakan biaya apapun. Wajah pak Di kian pucat, melihat anaknya terbujur kaku. Beberapa orang yang simpati memberikan bantuan alakadarnya. Ada yang member uang receh, bekal minuman dan sebuah roti. Uang yang berada di tangan pak Di kembali hanya cukup untuk naik kereta listrik ke kampong halamannya. Pak Di kembali terpaksa mendorong gerobaknya menuju stasiun terdekat. Hal ini dikarenakan pak Di tidak mampu untuk menyewa ambulans unutuk mengangkut anak nya yang telah meninggal. Ketika di kereta pak Di menggendong anaknya dan meninggalkan gerobaknya di salah satu stasiun. Sementara yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana mala bisa cepat di kuburkan.